Search This Blog

Resensi Kumpulan cerpen


Tugas sekolah berguna juga buat mosting-mosting di blog, tugas ini adalah tugas bahasa indonesia di materi RESENSI KUMPULAN CERPEN, ane pake buku JANGAN MAIN-MAIN DENGAN TUHAN, karya Bambang Joko Susilo.

Kurang Lebih kaya ginilah hasil resensinya.

Mendalami Makna kehidupan


Judul : JANGAN MAIN-MAIN DENGAN TUHAN

Penulis : Bambang Joko Susilo

Penerbit : Republika

Tahun Penerbitan : September 2010

Daftar Cerpen : 1. Pohon ceri yang tumbuh di depan rumahku
2. Jangan main-main dengan Tuhan
3. Warisan telat menikah
4. Oh, listrik
5. Menembus lebatnya hujan
6. Trembesi
7. Lelaki yang berjalan sore-sore
8. Hitamnya hitam
9. Matinya seorang pengarang
10. Keluarga perokok
11. Nenek
12. Pemetik bunga di pinggir kota
13. Membunuh Godot
14. Menuju laut tak bertepi

Jumlah Halaman : 156 Halaman:

Empat Belas Cerita Pendek yang ada di dalam buku Jangan Main-main dengan Tuhan karya Bambang Joko Susilo ini berusaha menyuguhkan perjuangan manusia dalam melawan nasib dan takdir Tuhan.
Beberapa ceritanya mengandung banyak kelucuan-kelucuan. Penulis mencoba mengajak pembaca masuk menghayati dan menikmati kedalam cerita dengan cara mentertawakan dirinya sendiri di dalam cerita, karna di buku ini banyak parody yang tragis dan menggelikan.
Bambang Joko Susilo lahir di Sragen, Jawa Tengah, 14 Juli 1964. Pendidikan terakhirnya Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta (Sekarang IISIP), jurusan Ilmu Jurnalistik. Berawal dari sini Joko susilo mengawal karirnya, mengarang adalah bagian dari jiwanya, karyanya banyak di gemari orang karena Joko susilo memberikan pandangan yang mudah di mengerti dalam setiap tulisan yang ia buat, hal ini juga yang membuat namanya menjadi terkenal sebagai pengarang hebat, bahkan namanya tercantum dalam buku Leksikon Suasastra Indonesoia (Balai Pustaka, 2000).

Kelebihannya Ceritanya menggunakan bahasa yang mudah di pahami, dalam suatu cerpen bahkan ada yang menggunakan bahasa Jawa. Penulis juga memaparkan cerita lebih mendalam namun tidak membingungkan pembaca, misalnya dalam Cerpen Keluarga Perokok, Membunuh Godot dan Oh Listrik, ceritanya di buat sangat menarik sehingga membuat pembaca tidak ingin berhenti membaca walau untuk sejenak, akhir cerita ini pun sangat mengejutkan dan tidak dapat di duga.
Dalam cerita Hitamnya hitam penulis membawa dalam suasana yang ada di dalam cerpen sehingga penghayatannya pun terasa oleh pembaca.
Dalam cerpen utama yang menjadi judul besar kumcer ini, “Jangan Main-main dengan Tuhan”, Banyak dialog yang membuktikan kematangan penulis dalam memainkan emosi pembaca. Berikut sedikit cuplikannya:
“Engkau jangan main-main dengan Tuhan!” Daud berang.
“Tuhan jangan engkau samakan dengan teka-teki silang!” jawabku sedikit meradang.
“Rencana Tuhan memang sulit ditebak, tapi Dia-lah yang Maha Berkehendak!” kata Daud lagi.
“Manusia juga punya kehendak!” aku tak mau kalah
“Tapi kehendak manusia terbatas!”
“Tapi tidak untuk maut!”
“Kau…??” Daud memandangku seperti tak percaya.
“Kau tidak percaya? Baik,” lalu aku mengambil pistol. Kuisi dengan sebuah peluru. Lalu kuacungkan ke jidat Daud. “Sekarang kita buktikan, Tuhan atau manusia yang berkuasa atas maut?”
“Apa maksudmu?” Daud terperagah
“Bila pelatukini kutarik, maka berhamburlah otakmu. Kau akan mati seketika. Itu berarti maut ada di tanganku, tangan manusia. Dan akulah yang berkuasa terhadap maut. Apakah engkau tak percaya?”

Pembaca diajak menikmati keseriusan pemikiran penulisnya lewat dialog atraktif para tokohnya yang begitu hidup, antara Daud dan aku. Tokoh "aku" berkeyakinan bahwa maut ada di tangan manusia. Maut adalah kehendak manusia sendiri. Lalu tokoh "aku" memberi contoh untuk mendukung keyakinannya tersebut. Hal ini dibantah oleh tokoh yang bernama Daud. Sayang sekali, bantahan Daud sangat lemah. Dan tidak mampu meruntuhkan pemikiran tokoh "aku". Sehingga cerpen ini secara keseluruhan memihak kepada tokoh "aku". Keberpihakan ini menjadikan cerpen ini adalah cerpen yang dapat mempengaruhi jiwa pembaca dengan menyajikan opini dan pemikiran yang dibuat sendiri oleh tokoh "aku'.

FB Comments